Legenda Gunung Kelud dan Sumpah Lembu Suro untuk Kediri
Gambar
Patung Lembu Suro (Sumber: AGTVnews.com)
Lembu Suro, yang secara harfiah berarti ‘Sapi Suro’ adalah sosok yang dianggap sebagai roh atau makhluk mistis dalam tradisi Jawa. Dalam legenda, Lembu Suro digambarkan sebagai manusia berkepala sapi yang memiliki kekuatan magis yang luar biasa. Dikatakan bahwa Lembu Suro merupakan penjelmaan dari roh jahat yang kuat dan memiliki kekuatan supranatural. Menurut cerita rakyat Jawa, Lembu Suro sering muncul di tengah malam di desa-desa atau tempat terpencil. Ia sering dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa mistis yang menakutkan, seperti kematian mendadak atau bencana alam.
Masyarakat meyakini bahwa kehadiran
Lembu Suro adalah pertanda buruk dan dapat membawa malapetaka. Dalam beberapa
versi legenda, dikisahkan bahwa Lembu Suro datang untuk mencari korban manusia.
Ia akan memburu orang-orang yang memiliki dosa besar atau yang telah melanggar
aturan-aturan spiritual. Kawasan Gunung Kelud dari
zaman dahulu sudah diramalkan akan terjadi bencana dahsyat karena tuntutan
balas dendam sosok sakti mandraguna Lembu Suro karena dikhianati cintanya oleh seorang putri cantik,
Dewi Kilisuci.
Berawal dari cerita seorang
putri dari Kerajaan Jenggala yang memiliki budi pekerti dan kecantikan layaknya
bidadari bernama Dewi Kilisuci. Karena kecantikannya, Dewi Kilisuci dilamar
oleh dua raja yang berasal dari bangsa bukan manusia. Kedua raja tersebut
adalah Raja Lembu bernama Lembu Suro dan Raja Kerbau bernama Mahesa Suro. Sebenarnya,
Dewi Kilisuci tidak mau dinikahi oleh mereka berdua. Akan tetapi, dia tidak
berani menolak keduanya secara langsung. Sebab, jika dia menolak akan memicu amarah
besar. Akhirnya Dewi Kilisuci mengadakan sayembara membuat dua sumur di atas
Gunung Kelud. Sumur yang diinginkan Dewi Kilisuci harus selesai dalam waktu
satu hari satu malam. Keduanya juga harus berbau wangi dan amis. Lantaran
dibantu pasukan jin, Lembu Suro dan Mahesa Suro berhasil menyelesaikan
permintaan Dewi Kilisuci. Begitu tahu siasat pertamanya gagal, Dewi Kilisuci
membuat siasat baru. Dia meminta Lembu Suro dan Mahesa Suro untuk membuktikan
apakah kedua sumur itu benar-benar berbau amis dan wangi dengan cara masuk ke
dalam sumur. Saat kedua raja jin itu masuk ke dalam sumur, Dewi Kilisuci
memerintahkan prajuritnya untuk menguruk sumur tersebut dengan tanah hingga
keduanya mati.
Sebelum mati, Lembu Suro
mengucapkan sumpah dari dalam sumur. Sumpah tersebut berbunyi:
“Mbesok bakal pethuk piwalesku sing makaping-kaping. Yaiku, Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung dadi kedung.” (Suatu saat akan mendapat balasanku yang teramat besar. Yaitu, Kediri akan menjadi sungai, Blitar menjadi daratan, dan Tulungagung menjadi cekungan air yang sangat besar).
Sumpah Lembu Suro tersebut hingga saat ini masih diyakini oleh masyarakat Kediri. Masyarakat sekitar Gunung Kelud juga mengadakan ritual berupa upacara adat untuk tolak bala sumpah Lembu Suro yang dilakukan di kawah Gunung Kelud setiap satu tahun sekali di bulan suro. Ritual ini diberi nama wage keramat. Bahkan sekarang ini pelaksanaan ritual wage keramat banyak didatangi wisatawan dari dalam dan luar Kediri.
Selain sumpah Lembu Suro, masyarakat sekitar Gunung Kelud juga mempercayai mitos patung Lembu Suro yang terkenal dengan kesaktiannya. Ketika Gunung Kelud meletus, dipercayai karena Lembu Suro murka, sehingga batu-batu serta air yang berada di dalam sumur itu keluar menjadi letusan. Konon, hutan yang berada di kawasan Wisata Lembu Suro ini selalu terbakar ketika Gunung Kelud meletus. Namun, tidak seluruh bagian hutan terbakar. Kawasan yang terbakar hanyalah kawasan yang berada di utara patung Lembu Suro. Masyarakat sekitar menyebut hutan ini alas kobongan. Menurut mitos masyarakat di daerah ini, hal tersebut dipengaruhi oleh patung Lembu Suro, Patung Lembu Suro dapat memberikan perlindungan di kawasan patung ke selatan.
(Sumber: https://jatim.inews.id/berita/legenda-gunung-kelud)


Komentar
Posting Komentar