Mari Berkenalan dengan Sastra


“Saya setuju (karya sastra dapat melembutkan hati), bukan karena saya sastrawan, tapi cara berkomunikasi paling canggih dengan bahasa adalah dengan sastra.” – Sapardi Djoko Damono –

Halo, sobat sastra. Salam kenal dari aku untuk sobat-sobat tercinta. Tulisan perdana ini, aku bakal ngajakin kamu untuk berkenalan dengan sastra. Nah, mungkin kebanyakan dari kita apabila ditanya mengenai sastra pasti mengarah ke puisi, cerpen, novel, dan teater. Itu semua tidaklah salah sobat karena kesemuanya itu bagian dari sastra. Lantas, apa sih arti sastra?

Sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium. Bahasa itu sendiri merupakan ciptaan sosial. Sastra menampilkan gambaran kehidupan, dan kehidupan itu sendiri adalah suatu kenyataan sosial (Damono, 1979:1).

Nah, kutipan tersebut merupakan kutipan dari Sapardi Djoko Damono dalam bukunya yang berjudul Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas yang terbit tahun 1979 oleh Depdikbud. Sapardi Djoko Damono adalah sastrawan idola banget hehe. Beliau menuliskan bahwa sastra merupakan perwujudan dari kehidupan sosial yang terjadi dalam suatu masyarakat tertentu. Dalam hal ini, sastra merupakan sebuah tulisan imajinatif yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengapa dipertanggungjawabkan? Ya, meskipun sastra bersifat imajinatif, proses kreatif dalam penciptaan tulisan sastra tidaklah asal-asalan, melainkan dengan memandang segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan sosial. Bisa jadi dari kehidupan pribadi, kehidupan tokoh berpengaruh, kejadian di suatu daerah, dan lain sebagainya. Cakupan sastra sangatlah luas karena berkaitan dengan aspek kehidupan. Mulai dari sosial, budaya, politik, ekonomi, sejarah, pendidikan, agama, cinta, dan lain sebagainya. Tak bisa dipungkiri nih sobat kalau sekarang tulisan yang paling laku di pasaran adalah tentang cinta. Namun, kita sebagai penikmat sastra, tentunya bisa terbuka dengan genre apapun. 

Nah, berbicara mengenai sastra, apa sih fungsinya? Adanya sastra dapat memberikan pengetahuan yang khas dan tidak ditemukan dalam pengetahuan serta filsafat. Sastra membuat manusia mengerti apa yang manusia lihat, membayangkan apa yang sudah diketahui, baik konseptual maupun praktis. Sastra dapat meringankan manusia (penulis maupun pembaca) dari tekanan emosi. Sastra juga dapat memberikan kontribusi nilai-nilai kehidupan manusia. Nah, dalam hal ini sastra dapat kita gunakan sebagai mediasi, lho sobat.

Tak hanya tulisan, lho. Sastra juga dapat berupa ujaran (lisan). Sastra tersebut lahir lebih dulu dari sastra tulis karena masyarakat zaman dahulu belum mengenal tulisan, seperti cerita rakyat, peribahasa, lagu rakyat, mitos, legenda, epik, dongeng, dan lain sebagainya.

Kembali ke fungsi sastra. Terdapat beberapa fungsi lainnya yang sudah aku rangkum nih, yaitu fungsi hiburan, fungsi sosial dan politik, fungsi ideologis, fungsi moral, fungsi linguistik, fungsi budaya, fungsi pedagogis, dan fungsi historis. Kesemua fungsi tersebut selalu dilibatkan dalam sebuah karya sastra. Untuk itu, karya sastra dapat dijadikan suatu media pembelajaran dan bisa menjadikan kita semakin bijak, lho sobat. Penulis karya sastra memiliki tujuan untuk menyampaikan apa yang ingin disampaikannya kepada pembaca dan pembaca dapat menikmati tulisan yang ditulis oleh penulis. Jika tulisan sudah dinikmati oleh pembaca, penulis melimpahkannya kepada pembaca karena pembaca sendirilah yang menafsirkannya dengan berbagai sudut pandangnya. Oleh karena itu, sastra bersifat subjektif.

Nah, sampai di sini dulu ya sobat berkenalan dengan sastra. Aku bakal ngenalin kamu lebih dalam tentang sastra di tulisan selanjutnya. Sesuai dengan pepatah, “tak kenal, maka tak sayang”, maka dari itu, aku bakal ngenalin dan kita kupas satu per satu tentang karya sastra. Dan, tentunya kita belajar bersama, sobat. Kamu bisa berpendapat di kolom komentar, lho karena kita memiliki kebebasan untuk berpendapat. Sampai jumpa di tulisan selanjutnya, Salam literasi.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sri Aji Jayabaya dan Ramalannya

Legenda Gunung Kelud dan Sumpah Lembu Suro untuk Kediri

Menyelisik Mitos di Sendang Tirto Kamandanu