Mengapresiasi Puisi
“Makanya saya benci sekali melihat soal ujian
nasional yang menampilkan puisi saya, lalu menanyakan artinya. Ya, sudah pasti
benar karena itu bergantung penafsiran masing-masing, yang terpenting dihayati.
Sajak, puisi, drama, semuanya sama.” –
Sapardi Djoko Damono –
Halo, sobat sastra. Di tulisan kedua ini, aku bakal ngajakin kamu untuk mengapresiasi puisi. Puisi
adalah bagian dari karya sastra yang sarat akan makna. Terkadang kita butuh
berkali-kali untuk menghayati dan memahaminya. Terkadang ada yang abstrak dan
memiliki filosofis tinggi.
Samuel Taylor Coleridge mengungkapkan bahwa puisi adalah kata-kata terindah dalam susunan terindah, sehingga nampak seimbang, simetris, dan memiliki
hubungan yang erat antara satu unsur dengan unsur lainnya. Permainan
kata-kata dalam puisi sangat nyata, sebagai suatu penggambaran pengalaman,
rasa, dan pikir. Menuntaskan puisi membutuhkan perasaan untuk menghayati dan
pikiran untuk memaknai, serta menghubungkannya dengan pengalaman. Puisi
sangatlah indah jika kita menghayatinya dengan indah pula. Terkadang, jika kita
sulit memaknainya, kita akan membencinya. Tidak apa, itu proses untuk mencintai
puisi karena hal yang tidak kita suka justru pada akhirnya kita akan menyukainya
hehe. Kita hanya perlu proses mencari puisi yang ketika kita membacanya, kita
akan dibawa ke dalamnya. Dari situ akan menumbuhkan rasa cinta terhadap puisi.
Puisi dapat membuka mata, pikiran, dan hati kita. Puisi juga dapat menjadi
solusi atas segala permasalahan yang kita hadapi. Nah, puisi karya siapa yang
paling kamu sukai?
Di tulisan ini aku bakal mengambil satu contoh puisi untuk diapresiasi dari penyair legendaris
angkatan 45, yaitu Chairil Anwar. Meskipun beliau sudah tiada. Namun, namanya
tetap abadi dalam karyanya.
Hampa
Kepada Sri
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Tak kuasa melepas-renggut
Segala menanti. Menanti. Menanti
Sepi
Tambah ini menanti jadi mencekik
Memberat-mencengkung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti
Sobat, melihat
judulnya saja pasti rasa yang tumbuh dalam hati kita adalah sedih, kosong, dan
sesak. Setiap kalimat yang ditulis oleh Beliau selalu muncul rasa sepi yang
menanti seseorang yang dicintainya.
Sepi di luar. Sepi menekan mendesak
Larik tersebut
menggambarkan perasaan sepi yang begitu menyiksa batin.
Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
Larik tersebut
menggambarkan keadaan yang membuat seseorang tidak bisa melakukan apa-apa
karena rasa sepi akan penantiannya.
Sampai ke puncak. Sepi memagut,
Larik tersebut
menggambarkan perasaan sepi yang terlalu larut menguasai diri.
Tak kuasa melepas-renggut
Larik tersebut
menggambarkan sebuah tekat seseorang yang tetap setia menanti dengan tidak
melepaskan cintanya dan berpikir tidak ada satu pun yang mampu merenggutnya.
Segala menanti. Menanti. Menanti
Larik tersebut
menggambarkan keteguhannya untuk selalu menanti apa pun yang terjadi.
Tambah ini menanti jadi mencekik
Larik tersebut
menggambarkan perasaan yang semakin menyiksa dan membuatnya begitu sakit.
Memberat-mencengkung punda
Larik tersebut
menggambarkan perasaannya yang begitu berat.
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Larik tersebut
menggambarkan perasaan hatinya yang sangat hancur karena semakin hari berlalu
tidak jua ia menemukan jawabannya.
Udara bertuba. Setan bertempik
Larik tersebut
menggambarkan keadaan hatinya yang begitu sesak dan selalu mempertanyakan untuk
mendapat jawaban atas penantiannya.
Ini sepi terus ada. Dan menanti
Larik tersebut
menggambarkan keteguhannya untuk selalu setia menanti meski harus tersiksa
batinnya karena cintanya yang begitu kuat atas penantiannya.
Bagaimana, sobat?
Kata-katanya begitu menyayat hati huhuhu. Nangis deh jadinya hahaha. Nah sobat,
pemilihan diksi tersebut mengajak kita masuk ke dalamnya, kan? Begitu kuat rasa
yang digambarkan di setiap lariknya. Kisah seseorang yang memilih untuk menanti
seseorang yang dicintainya, begitu mengharukan dan sangat setia akan cintanya. Tapi
sobat, kita juga jangan terlalu larut dalam kesedihan ya. Kita boleh menanti,
tapi kita juga harus siap akan apa yang terjadi dalam penantian kita.
Nah, sampai di
sini dulu ya, sobat edisi mengapresiasi puisi. Di tulisan selanjutnya, aku
bakal ngajakin kamu untuk menulis puisi karena penulis yang baik adalah pembaca
yang baik pula. Semakin banyak yang kita baca, semakin mahir kita menulis. Pasti
kebanyakan dari kita mencurahkan isi hati lewat tulisan. Iya, kan? Dari tulisan
itu kita bisa merangkainya menjadi puisi nan indah, lho. Tunggu aku di tulisan selanjutnya ya, sobat. Salam literasi.
Komentar
Posting Komentar