Berwisata Sejarah di Cagar Budaya Totok Kerot

 

Gambar Arca Totok kerot(Sumber: cagarbudayajatim.com)

Berwisata ke Cagar Budaya Totok Kerot akan mengingatkan kita pada sejarah terbentuknya Arca Totok Kerot di Desa Bulupasar, Pagu, Kediri, sekitar 10 kilometer sebelah selatan Pamuksan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang.

    Arca Totok Kerot ini merupakan peninggalan Raja Sri Aji Jayabaya yang memerintah pada tahun 1135 hingga 1157 Masehi. Ia adalah seorang raja yang sangat terkenal dengan ramalan dan kebijaksanaannya. Arca ini memiliki tinggi sekitar 3 meter dengan wujud raksasa perempuan, rambut terurai menjuntai ke belakang dengan posisi bersimpuh, tetapi satu kakinya tegak, matanya melotot, memakai kalung tengkorak, dan terdapat hiasan candrakapala berupa hiasan tengkorak bertaring di atas bulan sabit yang merupakan lambang dari Kerajaan Kediri di kepalanya. Namun, lengan sebelah kirinya putus ketika diangkat ke permukaan pada era kolonial Belanda. Terbentuknya Arca Totok Kerot ini berkaitan dengan kesaktian Sri Aji Jayabaya.

        Cerita berawal dari adanya tempat yang sangat tentram, aman, dan damai yang bernama Dhanapura, ibu kota Kerajaan Kediri.  Suatu ketika, terdapat seorang putri cantik yang berasal dari Lodoyo, Kerajaan Blitar bersikeras ingin diperistri oleh Sri Aji Jayabaya. Karena tidak mendapat restu dari orang tua, sang putri nekat datang ke Kediri untuk menemui sang raja dan bahkan terlibat dalam peperangan dengan pasukan Kerajaan Kediri yang dikisahkan kemenangan berpihak padanya. Atas kemenangannya, sang putri menuntut bersikeras ingin dipertemukan dengan Sri Aji Jayabaya. Tuntutan tersebut akhirnya dikabulkan. 

    Setelah bertemu dengan sang raja, dia menyampaikan keinginannya untuk diperistri. Namun, sang raja bersikukuh menolak dan terjadi perang di antara keduanya. Setelah sang putri terdesak, Sri Aji Jayabaya mengeluarkan sabda dengan menyebut sang putri memiliki kelakuan seperti buto atau raksasa. Melalui sabda tersebut, seketika sang putri berubah wujud menjadi patung raksasa yang dikenal dengan Totok Kerot.

      Penamaan “Totok Kerot” sebenarnya berasal dari cerita lisan.Totok yang artinya mulut dan kerot yang artinya menggeram. Jika diperhatikan, ekspresi wajah dari arca seperti seseorang yang sedang marah. Masyarakat hingga kini percaya Arca Totok Kerot merupakan benda hidup. Arca tersebut sering mendatangi orang secara langsung atau dalam mimpi menjelma menjadi putri cantik dengan penampilan khas putri kerajaan. Konon, Arca Totok Kerot diyakini juga bisa bergerak sendiri. Sebelumnya arca ini berada di Desa Bulupasar, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, kemudian dipindahkan ke alun-alun Kota Kediri. Namun, arca tersebut tiba-tiba kembali ke tempat asalnya hanya dalam waktu satu malam.

Gambar Taman Totok Kerot (Sumber: detik.com)

       Kini, tempat wisata Totok Kerot sudah diperluas dengan taman yang dilengkapi dengan air mancur, play ground, bangku taman, dan fasilitas penunjang lainnya agar wisatawan merasa nyaman ketika berkunjung ke sana. Jam buka tempat wisata ini dari pagi hingga malam hari dan dikenakan tarif Rp 2.000,00 untuk memasuki Arca Totok Kerot. Tarif tersebut digunakan untuk merawat dan mengelola lingkungan Arca Totok Kerot. Selain mengetahui jejak sejarahnya, pengunjung juga bisa mengabadikan foto pada spot-spot yang sudah tersedia di sana. Namun, pengunjung dilarang menyentuh arcademi keamanan arca. 

(Sumber: https://kompasiana.com/ghalibfds/63c6425a38207a583359b6f2/bukti-kesaktian-sri-aji-jayabaya-melalui-arca-totok-kerot)


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Sri Aji Jayabaya dan Ramalannya

Legenda Gunung Kelud dan Sumpah Lembu Suro untuk Kediri

Menyelisik Mitos di Sendang Tirto Kamandanu